Aku Harus Sekolah!

Beberapa waktu yang lalu kita sempat terbius oleh event dunia yang paling akbar di China, apalagi kalau bukan Olimpiade. Inilah kisah Cina yang begitu gagah dengan kemegahan dan sedikit membusungkan dada menyambut tamu dari berbagai belahan dunia, seraya mengatakan, “Inilah Cinaku.”
Tapi tahukah kita semua bahwa ternyata masih ada lumbung-lumbung kemiskinan di negara (bekas) komunis itu. Zhangjiashu, begitu nama distrik yang paling miskin di Cina. Wilayah ini sulit air sehingga selalu terjadi kekeringan kronis. Mayoritas penduduknya adalah suku Hui. Penghasilan tahunan rata-ratanya adalah 400 yuan. Sementara rata-rata nasional Cina adalah 6.000 yuan. Bahkan Shanghai mencapai 33.000 yuan. Data statistik ini menunjukkan betapa ekspansi perekonomian Cina yang besar, gagal menjangkau pelosok-pelosoknya, sekalipun hanya remah-remahnya. Dan di sanalah cerita ini dimulai, di lumbung kemisikinan, kisah hidup Ma Yan.
Ma Yan terlahir sebagai anak tertua di keluarga miskin yang tinggal di Zhangjiashu, Cina. Namun, semangat Ma Yan yang luar biasa tidak membiarkan apapun atau siapa pun menghalangi keinginannya meraih ilmu. Tidak hanya harus berlapar-lapar agar bisa membeli peralatan tulis, dia juga harus berani menentang kebiasaan masyarakat desanya. Sebab, di desanya hanya anak lelaki yang diizinkan untuk bersekolah.
Inilah kisah tentang gadis berumur tiga belas tahun yang tinggal di kawasan Muslim di Cina. Kehidupan dia dan keluarganya yang kekurangan membuat Ma Yan harus bekerja keras agar bisa mengenyam ilmu. Dia harus menyisihkan uang makannya selama dua pekan, hanya untuk membeli sebatang pena. Hanya satu alasannya untuk bersekolah, dia ingin mendapatkan pekerjaan bagus supaya ayah dan ibunya tidak lagi hidup sengsara. Makanya dalam setiap derita yang ia alami, selalu ia lafaskan dalam hatinya, “Aku harus sekolah”. Dapatkah kira-kira Ma Yan mewujudkan impian terbesarnya itu? Temukan jawabannya dalam novel setebal 214 halaman ini, yang telah dicetak untuk kali ketiga dalam tempo dua bulan.
Novel yang diangkat dari kisah nyata ini sungguh sangat menyentuh dan akan membuat kamu yang membacanya berurai air mata. Betapa seorang bocah kecil dengan segala keterbatasan ekonomi dan budaya, berusaha keras untuk memperoleh pendidikan yang layak. Bahkan, berani mengambil risiko kaki kecilnya bengkak hebat akibat berjalan kaki selama lima jam karena tidak punya uang untuk naik angkutan ke sekolah. Novel ini sangat layak menghiasi koleksi buku kamu

silahkan meninggalkan komentar yang membangun.
terima kasih atas kunjungannya
EmoticonEmoticon