Berlayarnya Kisah diujung Jalan

Menyamainya hati mentari dari sisi pandangan, dan selepas sholat jum’at berkesan pulang dari kerinduan, ada sisilah fikiran juga yang ingin disampaikan, kenangan dan manis nya waktu biar di pegang dengan larut nya waktu hingga akhir zaman. nestapa atau kebahagian biar juga datang silih berganti tampa ada juga yang memberitahukan mata hati ini, dan saya yakin, akan kehidupan akan berlanjut di pelabuhan baru yang akan saya kunjungi. namun biar lah sementara tampa ada kehidupan yang akan membawa nikmat nya langkah kaki ini bergerak. dengan tertatih, tampa ada yang menolong di lanjut perjuangan bersama dan masyarakat sekitar. tidak ada angin kencang yang menemani seperti biasa nya, namun tetap bersiul menunggu angin sore itu datang kembali, “wahai angin… hibur lah aku di tepian ini, rasanya dirimu tak hadir di sisi nya, dan gesek-gesekan bambu yang menghibur juga membisu. sedih hari rasanya yang sendiri dan sendiri menikmati  tepian ini tak bergerak melepaskan emosi timbal balik alam yang bermain dipandangan.”
Awan awan putih yang bergelombang di atas langit, mengiringi hari ini memang cerah dan cerah, panas mentari juga tak ada yang bisa membendung mata ini untuk mengelakkan, tubuh ku merasakan kehangatan dan menikmati nya sebagai suatu kepercayaan. panas adalah anugrah, tak boleh bersedih hati jika akan terus berlanjut di depan. dari jauh-Mercusuar tinggi putih, juga membisu di pandangan.  dari kejauhan, ini saja yang se- akan kuat dan tahan akan pendirian dan kepercayaan. langkah, nya tegap dan tegap. lumayan untuk menguatkan imajinasi akan sebuah mersucuar yang sekilas di pandangan. dan saat bemenung ria dan berkontemlasi ria. rasa rindu ini tertarikkan di atas kertas yang saya mainkan sebuah harapan yang juga mendalam dan tak kan ada yang mengantikan. di sela sela bersiul, angin-angin sepoi mulai menghampiri raga ini, sedikit terobati dan membenamakan diri di kisah muara hari yang bermain di goresan tangan ini :
AYAH DAN IBU DALAM PANDANGAN
KASIH MU JUGA TAK TERBANTAHKAN
DAN HARAPAN ITU MASIH DI GEMGAM
KAMI YANG DI RANTAI PERJUANGAN
DI DALAM KESAKITAN YANG MENDALAM
DI UJUNG MUARA YANG AKAN TENGELAM

ADINDA JUGA DALAM ANGAN ANGAN
MEMANG RAGA INI TAK ADA
TAPI SERAYA AKAN BERKATA
KAMI ADI SISI LAMA
YANG MEMBENAM KAN HARI INI KARENA KERINDUAN
DI MUARA LAMA KAMI BERMAIN
MENDESIR AWAN YANG TERANG
BERIAK AIR MEMANTUL KAN HARAPAN
AIR MATA JATUH DI PERMUKAAN
TEPIAN
DAN BERKACA DI DALAM PANDANGAN
KERINDUAN INI BERMAIN DI SEGALA LAPISAN
MENGARAP DAN DI HARAP ADALAH SUATU KEHARUSAN
DI DIAMKAN ATAU DI TEKANKAN
YANG TAK DI LERAI JUGA DI LERAI
MEMBISU DI KEHENINGAN
SENYUM MU MENGUERAI TANGISAN
DI SANUBARI DALAM
ITU TAK TAMPAK DARI RAUH WAJAH
TAPI TERSIMPAN RAPI DALAM HATI MU
YANG LEMBUT BERMAIN DI PUSARAN
WAKTU TENGELAM DI INGATAN
Harapan kisa mendiamkan angan angan, tak lama juga rasa nya ini berganti, cepat nya waktu itu tak akan bisa kita kekang, umur berjalan sebagai mana mestinya. dan lalai nya kita akan kita rasakan sebagai tolak ukur perkembangan, dan saya hanya diam membisu di tengah teriak beriak sungai, mengingatkan akan kerinduan panjang di muara lama sungai ini. salam bertauh di fikiran hari, dan menjelang sore untuk menyusun pedoman kedepan. wahai muara… yang diam membisu, harapan ini akan terus berjalan, lama kalamaan akan menjadi kenyataan, ini saksi bisu perjalanan orang yang besar kelak, selamat menjalani hari yang berkesan

silahkan meninggalkan komentar yang membangun.
terima kasih atas kunjungannya
EmoticonEmoticon