Simalakama Antara Moral dan Ekonomi



Masyarakat Bugis dan Makassar mengenal adanya bulan baik dan bulan buruk untuk melangsungkan pernikahan. Penentuan bulan baik dan buruk tersebut berdasarkan pada perhitungan kalender Islam, atau kalender Hijriah. Bulan baik untuk melangsungkan pernikahan biasanya, jatuh pada bulan Sa’ban atau satu bulan menjelang Ramadhan, dan satu bulan setelah Ramadhan yaitu Syawal. Ramadhan tidak dipilih sebagai bulan untuk melakukan pernikahan karena dianggap sebagai bulan yang dikhususkan untuk memperbanyak amalan baik dan beribadah. Makanya tidak heran jika sebelum dan sesudah Ramadhan, banyak ditemui pesta-pesta pernikahan.



Selain Ramadhan, bulan Zulkaidah dan Zulhijjah juga dianggap sebagai bulan yang tidak tepat untuk melangsungkan pernikahan. Alasannya karena pada saat itu banyak orang muslim yang sedang melakukan ibadah haji di Tanah Suci Mekah. Sehingga jika melangsungkan pernikahan pada saat itu, tentu saja banyak keluarga yang dikhawatirkan tidak melihat acara pernikahan sanak familinya.

Bulan Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal dan Jumadil Akhir, adalah bulan yang juga dianggap baik untuk melangsungkan pernikahan. Seperti saat ini, bulan Juni dan Juli yang bertepatan dengan Rabiul Awal dan Rabiul Akhir, juga sangat banyak ditemui pesta pernikahan. Kepercayaan itu tentunya dianut juga di kawasan Ajatappareng (Pare-pare, Barru, Sidrap, Pinrang, Soppeng, Wajo, dan Enrekang) Sulawesi Selatan.

Selain kemeriahan dan kebahagiaan oleh kehadiran sanak saudara di acara resepsi pernikahan, ada kemeriahan lain yang dianggap sebagai pelengkap hari kebahagiaan tersebut. Kemeriahan pelengkap itu biasanya dihadirkan oleh serombongan artis atau biduan electon (sejenis organ tunggal) yang juga berasal dari kawasan Ajatappareng. Dalam acara resepsi pernikahan, artis electon tersebut biasanya membawakan lagu-lagu dangdut dan lagu daerah yang sedang hits.

Namun saat ini, ada yang berbeda dengan penampilan para artis electon tersebut. Jika beberapa tahun yang lalu, hanya ditemui artis electon yang menyanyi dangdut dengan goyangan ala kadarnya yang memang menjadi pelengkap musik dangdut, maka saat ini musik dangdut yang ditampilkan juga diiringi dengan goyang “erotis” yang oleh beberapa kalangan dianggap sebagai “porno aksi”. Di kawasan Ajatappareng, goyangan ini biasanya disebut candoleng-doleng. Mengapa disebut goyang candoleng-doleng? Karena dalam syair lagu yang biasanya dinyanyikan oleh artis electon tersebut, ada kata candoleng-doleng yang dalam bahasa Indonesia berarti “berjuntai-juntai”. Syair lagu yang mereka nyanyikan adalah pelesetan lagu dangdut penyanyi terkenal Itje Trisnawati, mantan istri Aktor Eddie Soed.

Bagaimana tampilan goyang candoleng-doleng ala artis-artis electon? Dalam pesta pernikahan sepupu saya beberapa bulan lalu, karena terdorong rasa penasaran maka saya sengaja menunggu aksi para artis electon tersebut yang menurut cerita beberapa teman, aksi mereka sangat hot, dan asyik untuk ditonton karena murah dan meriah. Aksi goyang candoleng-doleng biasanya dilakukan setelah para tamu pesta pernikahan meninggalkan lokasi resepsi. Jadi yang tersisa adalah hanya para penonton dari berbagai usia, tidak ketinggalan pula anak-anak balita dalam pertunjukan ini. Mereka bergerombol tepat di bibir panggung pertunjukan. Parahnya lagi, belakangan ini goyang candoleng-doleng tidak hanya dilakukan pada malam hari, tapi juga pada siang hari.

Dalam aksinya, goyang candoleng-doleng biasanya diiringi dengan musik “house dangdut” yang berdurasi sekitar tiga puluh menit. Mereka biasanya tidak tampil sendiri, mereka biasanya tampil berdua atau bertiga. Dalam goyangannya, artis electon selalu tampil “seksi” dengan menggunakan baju ketat dan sangat minim. Mereka tidak segan-segan membuka (maaf) baju dan celana hingga yang tersisa hanya kutang dan celana dalam.

Aksi “buka-bukaan” tersebut biasanya diiringi dengan goyangan “erotis” yang mampu mengalahkan aksi “goyang ngebor” Inul Daratista, atau “goyang gergaji” ala Dewi Persik, atau bahkan “goyang ngecor dan goyang vibrator” milik Denada. Sedikit gambaran yang mereka lakukan saat bergoyang adalah; meliuk-liuk seperi penari striptis, meraba-raba (maaf) payu darah dan kemaluan, dan memperagakan pasangan yang sedang melakukan (maaf) hubungan intim.

Jangan pula membayangkan suara merdu dan bernyanyi yang sesuai dengan teknik yang benar pada saat artis electon menampilkan goyang candoleng-doleng-nya. Dalam durasi tiga puluh menit, artis-artis electon hanya bernyanyi tidak lebih dari sepuluh menit. Sisanya, mereka hanya mengisi musik “house dangdut” tersebut dengan goyangan “erotis”, lenguhan, desahan, lengkingan atau teriakan yang berisi ajakan untuk berbuat mesum, atau mengucapkan kata-kata yang tidak sopan, bahkan ada menggosok-gosokkan microphone pada (maaf) payu darah dan kemaluan.

Melihat aksi tersebut, penonton lelaki tidak malah mengucap kata tobat dan meninggalkan lokasi tersebut. Yang terjadi adalah, mereka ikut naik ke panggung sambil bergoyang bersama para artis electon, tidak lupa saat bergoyang mereka memberikan saweran berupa duit yang biasanya bernilai minimal lima ribu rupiah kepada artis electon. Makin besar nilai uang saweran yang diberikan dari penonton, serta makin banyak saweran yang didapat oleh sang artis, maka semakin “hot” penampilan mereka.

Cara memberikan saweran pun terbilang “nakal”. Mereka memberikan saweran dengan cara menyelipkan sendiri uang tersebut ke dalam (maaf) kutang dan celana dalam artis electon yang sedang bergoyang. Tentunya bukan hanya sekedar menyelipkan uang yang mereka lakukan, tapi lebih jauh lagi, mereka juga meraba-raba bagian tubuh artis tersebut tepat dimana mereka menyelipkan uang saweran-nya.

Aksi para artis electon dan penonton tidak berhenti sampai disitu. Setelah bernyanyi dan bergoyang, sekelompok penonton laki-laki datang menghampiri artis electon tersebut untuk bernegosiasi mengenai harga yang mampu mereka bayar untuk mengencani ramai-ramai artis electon tersebut. Namun aksi ini tidak selalu mereka dilakukan. Semuanya tergantung dari artis electon tersebut, apakah biasa menerima order seperti itu atau tidak. Saking hebohnya aksi goyang candoleng-doleng para artis electon tersebut, sempat menjadi berita utama di beberapa televisi swasta nasional.

Tidak ketinggalan pula Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat mengeluarkan fatwa larangan melakukan dan menonton aksi goyang candoleng-doleng karena dianggap haram dan bertentangan dengan etika, moral, dan agama. Namun, fatwa tersebut tidak mempan, karena sampai saat ini artis electon masih terus bergoyang candoleng-doleng.

Tapi pernahkan kita berfikir mengapa mereka melakukan aksi goyang candoleng-doleng tersebut? Annie Puspitasari, salah seorang artis electon yang sempat saya ajak bicara pada pesta pernikahan sepupu saya bulan lalu mengungkapkan, sebenarnya malu melakukan aksi goyang candoleng-doleng, apalagi jika mengingat anak perempuannya yang berumur lima tahun. Tapi himpitan ekonomi yang membuat “janda kembang” ini melakukan aksi tersebut. Diakuinya, sangat sulit mendapatkan pekerjaan yang dianggap “tidak haram” oleh masyarakat. Beberapa waktu yang lalu, dengan berbekal ijazah Sekolah Menengah Atas (SMA) dia melamar di beberapa perusahaan di kota Makassar. Namun hingga beberapa bulan sejak mengajukan lamaran, dia tidak pernah dihubungi oleh satupun perusahaan untuk mengikuti tes.

Saat saya tanya mengapa tidak membuka usaha sendiri? Annie langsung menyela pertanyaan saya; “Membuka usaha butuh modal Mas, sedang saya tidak punya modal sama sekali. Saya juga tidak bisa mengandalkan bantuan dari keluarga, karena saya juga berasal dari keluarga tidak mampu”. Meski terhimpit oleh masalah ekonomi, Annie mengaku selama menjadi artis electon, dia tidak pernah menerima tawaran untuk berkencan dengan penontonnya, meskipun dengan bayaran yang mahal. “Goyang candoleng-doleng sudah dianggap bertentang dengan agama, saya tidak mau lagi menambah dosa dengan menerima tawaran berkencan dengan penonton saya,” kata Annie dengan lirih.

Diakui oleh Annie bahwa pada umumnya, artis electon mau saja melakukan aksi goyang candoleng-doleng, bahkan menerima tawaran berkencan dengan penonton karena persoalan ekonomi. Untuk tampil dalam satu pesta semalam suntuk atau sehari suntuk, mereka hanya dibayar paling tinggi tujuh puluh ribu rupiah. Upah tersebut memang sangat murah karena, untuk menyewa peralatan electon, lengkap dengan artis dan player-nya, hanya dibutuhkan uang sekurang-kurangnya Rp. 700.000. Pemilik electon tentu membagi uang tersebut untuk membayar artis yang biasanya berjumlah tidak kurang dari enam orang, ditambah lagi player, dan tekhnisi peralatan electon, dan tentunya biaya sewa atas peralatan electon.

Oleh karena itu jika “musim pernikahan” seperti saat ini tiba, itu dianggap sebagai rezeki yang sangat melimpah oleh para artis electon. Betapa tidak, pada saat itu mereka tentunya akan semakin sibuk karena kebanjiran order manggung di beberapa pesta. Selain order bernyanyi dan bergoyang, tentunya mereka juga kebanjiran order berkencan dari penonton yang “nakal”.

Jika aksi goyang candoleng-doleng dikaitkan dengan persoalan ekonomi, maka sangat sulit mengambil kesimpulan jika artis electon tetap melakukan pekerjaan yang dianggap “haram” tersebut oleh masyarakat dan ulama. Karena persoalan ekonomi sangat sistematis. Dimulai dari kondisi negara yang memang tidak stabil atau mengalami krisis, ditambah dengan pemerintah yang tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya, akhirnya bermuara pada tingkat kesejahteraan rakyat yang sangat rendah. Kalau kondisinya sudah demikian, maka masyarakat akan melakukan apa saja untuk mempertahankan hidupnya dan keluarganya. Termasuk bergoyang candoleng-doleng seperti yang dilakukan oleh artis electon. Kira-kira, kapan rakyat Indonesia bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang layak dan tidak dianggap bertentangan dengan moral, etika, dan agama?

silahkan meninggalkan komentar yang membangun.
terima kasih atas kunjungannya
EmoticonEmoticon