Kisah Para “Pecundang”

Hidup itu tidak mudah. Kita berlomba menjadi manusia yang lurus, mulia, dan banyak kebaikan. Hal itu dilakukan bukan hanya setahun dua tahun, tetapi sepanjang hayat, sampai mati.
Kadangkala, ada rasa takjub melihat prestasi keshalihan orang-orang tertentu. “Wih, hebat sekali hafalan Al Qur’annya. Amboi, sangat meyakinkan kefasihan bahasa Arabnya. Masya Allah, mengagumkan ketekunan ibadahnya. Oh lihatlah, betapa konsistennya dia dengan Jihad Fi Sabilillah.” Kerap kita melontarkan kata-kata seperti ini. Tetapi hidup bukanlah “potongan-potongan gambar”. Hidup adalah deretan kejadian-kejadian panjang, sejak lahir sampai mati. Sebuah “potongan gambar” mungkin tampak sangat indah, namun belum tentu keseluruhan gambar itu senantiasa indah sampai sang pemilik gambar wafat. Belum tentu indah selalu, sampai akhir hayat.
Jujur, betapa hati kita sangat gembira saat melihat seseorang bertubat dari kesalahan dan kehidupananya yang buruk. Alhamdulillah syukur, ada hamba Allah yang bertaubat. Tetapi hati kita juga merasa ciut, ketika membayangkan, bahwa di balik taubat itu akan ada hari-hari panjang yang harus dihadapi. “Apakah akan terus konsisten dengan semangat taubat, sampai mati?” Inilah harapannya, harapan mulia kita kepada Allah Ta’ala. Amin ya Mujib.
Dalam konteks kehidupan keindonesiaan, kita menyaksikan betapa banyak fragmen-fragmen kehidupan yang menyedihkan hati. Banyak bunga-bunga mekar yang berguguran; banyak prestasi-prestasi mulia yang berganti bentuk menjadi aib-aib memalukan; banyak kisah-kisah kepahlawanan yang instan, menjadi pahlawan sebentar, kemudian konsisten sebagai bandit; banyak puji-pujian luhur di muka, kemudian menjadi caci-maki berkepanjangan di hari kemudian. Tentu kita sering mendengar ucapan, “Dasar munafik!” Ungkapan ini sering diucapkan, di berbagai kesempatan. Sembari yang mengucapkannya juga akan menjadi “munafik”, jika ada kesempatan. (Hanya karena tidak ada peluang saja, akhirnya sebagian orang tetap terjaga “tidak munafik”).
Layu sebelum berkembang...
Setahu saya, bangsa Indonesia itu tidak perlu memiliki pemimpin yang terlalu pintar, banyak teori, konseptor ulung, teknokrat sejati, dan seterusnya. Tidak perlu seideal itu. Cukuplah, bangsa ini dipimpin oleh orang yang BISA JUJUR terhadap dirinya sendiri. Cukup itu saja! Tidak usah kriteria fit and proper yang berliku-liku. Keahlian teknik itu bisa dibentuk, tetapi karakter kejujuran sulit dibangun. Ia lahir sebagai hasil jumlah dari sekian variabel-variabel kehidupan, sejak kecil sampai dewasa.
Kalau menyaksikan kenyataan selama ini, terlalu banyak orang pintar di kalangan elit bangsa. Hanya sayangnya, mereka pintar secara intelektual atau track akademik. Sedangkan moralitasnya buruk. Lihatlah, mereka pintar menipu rakyat kecil, pintar berkelit dengan bahasa diplomasi, pintar mengkhianati cinta anak-isteri, pintar memelintir dalil sebagai kendaaraan syahwat, pintar kolaborasi dengan media-media pembohong, dan lain-lain. Mencari pemimpin yang jujur dan konsisten, sangat sulit.
Kehidupan ini seperti arena ujian yang membentang panjang. Ada banyak titik persimpangan jalan di hadapan hati setiap manusia. Kadang kala, seseorang selalu mengikuti hati nuraninya untuk mengatakan YES terhadap pilihan-pilihan yang baik; dan mengatakan NO terhadap bad choice. Tetapi tidak sedikit yang sebaliknya. Hingga keshalihan, kejujuran, komitmen itu, akhirnya menjadi semacam “mimpi tak nyata”.
Mari kita buka sebagian catatan-catatan menarik…
Ada seorang pemuda. Dulu dia aktivis gerakan Sosio-Marxis. Tentu saja, dia sangat pro rakyat. Sehari-hari, hidupnya hanya berjuang demi rakyat belaka. Para petani, kaum buruh, nelayan, serta orang-orang tertindas. Tetapi kemudian sejarah berubah. Ada seorang pejabat tinggi negara yang simpati dengannya, lalu memberikan pemuda itu peluang menjadi orang kepercayaan sang pejabat. “Saudaraku, Anda selama ini sudah berjuang keras membela rakyat. Sampai Anda melupakan hak-hak anak isteri. Kalau mau, Anda menjadi staf ahli saya. Ini juga perjuangan untuk membela rakyat. Ayolah, ikut bersama kami! Ikut perahu besar kami. Insya Allah, nanti kebutuhan anak-isterimu kami jamin 100 %. Sudahlah, tak usah malu-malu. Tak usah sungkan. Besok datang ke kantor saya. Ada surat kontrak yang harus Anda tanda-tangani. Oh ya, ini ada sekedar uang saku untuk memperbaiki penampilan. Tolong, besok ke kantor dengan penampilan rapi ya! Oke, sampai ketemu besok! Salam perjuangan, demi rakyat!” Mungkin, konteks narasinya seperti itu. Kata-kata seperti itu sangat memukau hati pejuang pro rakyat. Tetapi ia tak boleh sama sekali terdengar oleh “rakyat tertindas” yang ada disana. No, no. Itu kata-kata rahasia.
Dulu pejuang pro rakyat, kini menjadi pejuang pro kekuasaan. Dulu selalu di sisi rakyat. Kini, selalu di sisi kekuasaan, di manapun ia berada. Dulu membodoh-bodohkan penguasa, kini membodoh-bodohkan rakyat. Dulu teriak-teriak, “Revolusi, revolusi, revolusi!” Kini beda lagi, “Mercy, Ferrari, Black Berry!”
Ada juga seorang politisi. Terkenal dengan rambutnya yang memutih. Mungkin, tadinya, setiap batang rambut itu menjadi “korban” kesibukan sang politisi dalam membela rakyat. Karena sibuknya memperjuangkan nasib rakyat, sampai rambutnya lebih cepat tua dari usianya. Anak-anak muda berbisik, “Dia suka dengan cat rambut warna putih. Sungguh unique!” Kiprah politisi ini sangat mengagumkan, sehingga setiap media massa akan terasa hambar, kalau sehari saja tidak memajang foto atau mengutip pernyataannya. Puncak sukses politiknya tercapai saat dia bersama politisi-politisi lain mampu menghentikan jabatan presiden tertentu di tengah jalan.
Anehnya, setelah dia menjadi seorang menteri, segalanya seakan berubah. Sikap kritis padam, pernyataan tegas mati, naluri pejuang pro rakyat tiba-tiba kempes, keberanian membela kebenaran menguap entah kemana, logika-logika publik yang menawan seperti berubah menjadi statement-statement menjengkelkan. Revolusi karakter, ya revolusi karakter; dari pejuang pro rakyat, menjadi priyayi yang klimis.
Hatta seorang raja biasa pun… mungkin tidak akan mengalami kemalangan seperti ini. Semangat keberpihakan kepada kebenaran, berganti baju seacara revolusioner menjadi semangat bersenang-senang dengan kekuasaan. Hingga, menjadi “budak politik” pun tak apa, asal tidak menderita, fakir-miskin, seperti orang kebanyakan. Bayangkan, begitu berubahnya karakter diri itu, sampai sekedar jabatan “ketua ikatan alumni” pun diambil juga.
Ada lagi yang lain. Masih soal elit politik, kebetulan rambutnya memutih juga. Lawyer kawakan, penentang Soeharto sejak era Orde Baru. Konon, disebut-sebut sebagai tokoh demokrasi nomor wahid. Sikap kritis tokoh satu ini tak diragukana lagi. Beberapa waktu lalu dia mengeluarkan pernyataan sangat mencengangkan, “Jangan takut sama S…” Sambil menunjuk inisial seorang pejabat presiden. Orang mendadak sangat kritis, sangat vokal dalam menyuarakan kebenaran. Itu terjadi, setelah dia tidak menjabat anggota dewan pertimbangan presiden lagi. Saat masih menjabat, suaranya tenggelam sama sekali. Mungkin, ketika itu dia sibuk membisiki pejabat presiden agar menangkapi orang-orang kritis tertentu. Ini sekadar dugaan ya. Ketika tidak mendapat jatah jabatan menjadi kritis; ketika sedang menjabat lupa dengan amanah rakyat. Jadi bagaimana ya…
Ada juga elit lain yang tidak kalah menariknya. Masyarakat menyebutnya sebagai “bapak reformasi”. Ya, begitulah. Atau, “lokomotif reformasi” bisa juga. Singkat kata, kemegahan sosok satu ini kemudian menjadi “standar kebenaran”. Siapa yang sesuai pemikirannya, dianggap Reformis; siapa yang tidak sesuai pemikirannya, dianggap pro status quo. Hebat kan? Iya lah. Wong, pemikirannya menjadi standar kebenaran.
Tetapi seiring perjalanan waktu, sang “komandan reformasi” mulai berliku-liku. Omongannya berganti-ganti. Kata orang Jawa, “Esok tempe, sore dele.” (Pagi ngomong tempe, sore ngomong kedelai). Tidak konsisten dengan ucapan-ucapannya. Sampai puncaknya, menjelang Pemilu Presiden 2009 lalu, dia meminta partainya koalisi dengan partai penguasa. Alasannya, “Kita harus realistik. Kita harus melihat siapa yang berpeluang paling besar memenangkan Pemilu.” Ya Ilahi ya Rabbi, begitu jauhnya konsistensi itu terjerumus, sampai ke dasar jurang terdalam. Padahal semula, tokoh satu ini menyerang keras pemimpin partai penguasa itu, sambil menunjukkan dokumen bukti aliran dana dari Washington ke partai penguasa itu.
Bahkan yang lebih menakjubkan, demi menyetir partainya agar mau kolaborasi dengan partai penguasa, dia membuat pertemuan sendiri dengan elit-elit partainya di Yogya, tanpa seijin pemimpin resmi partai itu sendiri. Allahu Akbar… Kalau nafsu kuasa sedang menggelegak, apapun akan dihadapi, tanpa sedikit pun rasa malu. Dan herannya, di kalangan komunitas Muslim pendukung tokoh itu, posisi dia terus dielu-elukan.
Termasuk juga, ada sosok ustadz tertentu yang sudah terkenal. Dai sangat terkenal sebagai ustadz kalangan tertentu, pernah menjadi komandan pejuang Islam tertentu. Kemana-mana dikenal sebagai “komandan lasykar”. Performance-nya sangat alim, dengan segala atribut keshalihan di dalamnya. Tadinya dikenal sebagai ustadz besar di negeri ini, di mata komunitas tertentu. Tetapi seiring waktu, lagi-lagi arah angin berubah.
Tidak segan-segan ustadz itu menyerang kalangan Islam tertentu sebagai teroris, bahkan biang teroris. Dia melecehkan perjuangan kaum pejuang Islam di masa lalu. Pernah membisiki penguasa agar melarang buku ini itu, sebab katanya menjadi inspirator terorisme. Dulu mencela fotografi dan kamera. Tetapi kemudian berkali-kali menjadi narasumber diskusi di TV, sesuatu yang dulu tak terbayangkan. Bahkan pernah ikut rombongan Umrah, diberangkatkan bersama rombongan majelis dzikir penguasa politik tertentu.
Hebatnya lagi. Tokoh tersebut bersama beberapa murid-muridnya, pernah menjadi “petugas sekuriti” untuk mengamankan aset-aset yang dipersengketakan, yang akan dieksekusi. Ini benar-benar terjadi. Malah “jurus” ustadz tersebut pernah mendarat di muka seorang direktur media Islam, sehingga kacamatanya jatuh, lalu pecah lensanya. Ustadz, tapi bisa juga “main jurus”. Menurut sebagian sumber, dalam konflik di Poso, tokoh satu ini pernah mendapat hadiah “tanda mata” (baca: bogeman) dari pejuang Islam Poso yang kesal dengan segala sikap sok tahunya.
Mungkin banyak kalau mau disebutkan satu per satu. Intinya, sikap tidak istiqamah, kepahlawanan yang berubah menjadi kepencundangan. Kebetulan, hal itu menimpa orang-orang elit yang menjadi panutan banyak orang.
Maka Islam mengajarkan kita sebuah doa, “Ihdinas shirathal mustaqim, shirathal ladzina an’amta ‘alaihim” (tunjukkan kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat). Maksudnya, kita memohon agar ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada’, dan para Shalihin. Inilah jalan istiqamah sampai akhir hayat.
Ya Allah ya Rahiim, anugerahkan kami husnul khatimah, jauhkan kami dari su’ul khatimah. Ya Allah istiqamahkan kami di jalan yang lurus, sampai akhir hayat kami. Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

silahkan meninggalkan komentar yang membangun.
terima kasih atas kunjungannya
EmoticonEmoticon