Matinya Krtisme PMII

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan organisasi kemahasiswaan yang didirikan oleh kaum muda Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya pada tanggal 17 April 1960 silam. Agar PMII tidak menjadi organisasi “papan nama”, maka di usianya yang kian menua ini, kader-kader PMII dituntut untuk melakukan refleksi organisasi.

Tanpa bermaksud meminggirkan “prestasi” yang telah diukir PMII sejak awal pendiriannya, selama sepuluh tahun terakhir ini, PMII justru terkesan gagap dalam membaca dan menyikapi realitas bangsa yang dipenuhi dengan banyak persoalan. Kegagapan PMII dalam menyikapi persoalan-persoalan strategis bangsa, pada akhirnya membawa PMII ke pinggir sejarah.
Kegagapan PMII dalam menyikapi persoalan-persoalan bangsa jelas bertolak-belakang dengan paradigma kritis yang selama ini digembar-gemborkan sebagai pisau bedah PMII. Di tangan PMII, paradigma kritis seperti pisau tumpul yang untuk mengupas buah-buahan saja tidak bisa. Padahal, di dalam paradigma kritis tersimpan energi gerakan yang jika dimanfaatkan dengan baik akan menghasilkan perubahan luar biasa. Energi yang dimaksud adalah keberpihakan paradigma kritis terhadap kaum yang tidak beruntung.

Ketika paradigma kritis dipakai untuk menyikapi persoalan kemiskinan, misalnya, maka keberpihakan PMII hanya dipersembahkan kepada kaum miskin itu sendiri. Persoalan kemiskinan yang telah mengorbankan sejumlah masyarakat Indonesia seperti Iis Maya yang meninggal di kontrakannya di daerah Tangerang (13/3/08) tentu bukan melulu disebabkan oleh faktor kultural seperti sikap malas masyarakat untuk bekerja, dan bukan hanya karena faktor alamiah seperti bencana alam, melainkan di luar faktor kultural dan alamiah tersebut terdapat faktor struktural yang melegitimasi ketidakadilan ekonomi. Inilah yang disebut dengan kemiskinan struktural.

Ideologi neoliberalisme yang dibawa oleh globalisasi adalah penyebab dominan dari terpeliharanya penyakit sosial bernama kemiskinan yang hingga kini masih bertahan dan mendikte berbagai kebijakan pemerintah Indonesia. Neoliberalisme sendiri adalah paham yang memperjuangkan leissez faire (kompetisi bebas). Dalam kompetisi bebas, bisa dipastikan hanya kaum borjuis saja yang mampu keluar sebagai pemenang, sementara kaum pinggiran yang tidak memiliki modal apa-apa akan terus tergusur.

Dalam bukunya, Bebas dari Neoliberalisme (2003), Mansour Fakih memetakan lima agenda neoliberalisme yang harus dilawan, termasuk oleh kader-kader PMII. Pertama, biarkan pasar bekerja. Pasar dimitoskan bisa memperbaiki nasib masyarakat miskin. Kedua, pangkas subsidi negara seperti yang samar-samar terlihat dalam program insentif dan disinsentif listrik yang belum lama ini digulirkan pemerintah. Ketiga, realisasikan deregulasi ekonomi dengan memangkas peran negara. Keempat, wujudkan privatisasi seperti privatisasi lembaga pendidikan yang telah mengakibatkan harga pendidikan mahal. Kelima, masukkan paham sosial dan solidaritas masyarakat ke keranjang sampah.

Menyikapi persoalan semacam ini, PMII perlu menggunakan paradigma kritis sebagai kritik ideologi (neoliberalisme). Dalam bukunya, Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif (2006), Donny Gahral Adian menuturkan bahwa paradigma kritis sebagai kritik ideologi bertitik-tolak dari pemikiran Karl Marx. Marx memahami ideologi sebagai sistem kepercayaan dan persepsi sesat tentang realitas. Marx lalu mengajukan teorinya sebagai sains untuk membongkar kebobrokan ideologi kapitalisme yang berlindung di balik klaim rasionalitas.

Konstruksi pemikiran Marx sebenarnya merupakan ketidakpuasan terhadap dialektika roh Hegel yang dianggap terlalu abstrak dan tidak menyentuh realitas. Marx membalik dialektika roh Hegel menjadi dialektika materi. Jika Hegel yakin bahwa kesadaranlah yang menentukan realitas, maka Marx mendekonstruksinya dengan menyatakan bahwa praksis materiallah yang menentukan kesadaran. Inilah yang membawa Marx pada keyakinan akan adanya penindasan kelas borjuis terhadap kelas proletar yang wajib dilawan.

Pemikiran Marx tentu sangat berpengaruh di dunia. Puncaknya, ketika pemikiran Marx dilembagakan menjadi ideologi negara komunis Uni Soviet pada tahun 1919. Setelah pemikiran Marx dilembagakan menjadi sebuah ideologi negara komunis, Marxisme kehilangan daya kritisnya. Marxisme lalu menjadi dogma yang harus dipatuhi dan ditegakkan tanpa kritik. Pendeknya, Marxisme telah berubah dari pemikiran yang bersifat emansipatoris menjadi ideologi obyektif yang mendasarkan dirinya kepada determinisme ekonomi.

Ideologi sebetulnya merupakan tafsiran manusia atas realitas yang dijadikan pedoman karena dilegalisasi oleh kekuasaan. Ideologi yang dilegalisasi inilah yang menjadi sasaran kritik para filsuf Mazhab Frankfurt seperti Jurgen Habermas yang populer dengan dua mahakarya-nya, The Theory of Communicative Action Vol. I: Reason and the Rationalization of Society (1984) dan The Theory of Communicative Action Vol II: Lifeworld and System (1989). Habermas melihat ideologi dari kacamata dialektika, dimana daya kritis harus tetap ada.

Karena itulah, sebagai sebuah organisasi gerakan kemahasiswaan berskala nasional, PMII tidak boleh kehilangan kritisismenya. Pada saat yang sama, merujuk kepada Ben Agger di buku The Discourse of Domination (1992), PMII dituntut untuk mentransformasikan kematangan intelektualnya guna melakukan investasi sosial, politik, dan kultural. Hal semacam inilah yang akhirnya akan memandu arah gerakan PMII kini dan ke depannya, bukan kepentingan politik praktis belaka.

Akhirnya, semoga PMII mampu menghidupkan kembali kritisismenya. Kritisisme sangat dibutuhkan oleh organisasi gerakan seperti PMII untuk memerangi persoalan kemiskinan yang diderita oleh 34,96 juta masyarakat Indonesia (data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik pada Maret 2008), sekaligus guna melawan rasio instrumentalis yang menjangkiti elite-elite politik di republik ini. Rasio instrumentalis telah memosisikan masyarakat miskin sebagai komoditas politik yang bisa dieksploitasi.(*)
Sambutan Ketua Umum PB PMII
Juni 8th, 2009
Sambutan Ketua Umum PB PMII
TASYAKURAN HARI LAHIR & SILATURAHIM NASIONAL ALUMNI PMII
Balai Kartini, Jakarta 28 Mei 2009
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, Assholatu wasalamu ala asrofil anbiya wal mursalim, sayyidina wa habibina wa maulana muhammadinnabiya warasula. Robbi shohri shodri wayasirli amri wahlul uddatam bilisani yafqaulu qouli.
Yang Saya Hormati dan Banggakan, Presiden Republik Indonesia, Bapak DR. Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ibu Ani Yudhoyono…
Yang Saya Hormati, Jajaran Menteri Kabinet Indonesia Bersatu…
Yang Saya Hormati Duta Besar Negara-negara Sahabat atau yang mewakili…
Yang Saya Hormati, Ketua Majelis Pembina Nasional PMII serta Ketua Ikatan Alumni PMII (IKA-PMII)
Yang Saya Banggakan Pula Para Pendiri PMII yang masih ada, serta Kami Hormati Para Mantan Ketua Umum PB PMII
Para Tokoh, Para Alumni PMII, Pengurus PMII dari PB hingga Pengurus Cabang, Kader-Kader PMII serta hadirin yang saya kasihi…
Puji Syukur kehadirat Allah SWT, dzat yang Maha Mulia dan Kuasa, yang memberikan nikmatNya dan menggerakkan niat, hati serta meringankan langkah kita sehingga kita semua dapat hadir ditempat ini bersama-sama Bapak Presiden RI dalam Tasyakuran Hari Lahir PMII ke-49 sekaligus Silaturahim Nasional Alumni PMII.
Sungguh suasana yang mengharukan, menggembirakan sekaligus membesarkan hati kita semua sebagai warga Pergerakan ,karena Tasyakuran Hari Lahir PMII ke-49 ini menjadi fase menuju Tahun Emas 50 tahun atau setengah abad kelahiran PMII pada tahun mendatang. Yang sekaligus menjadi tolok ukur investasi Peradaban PMII bagi kemajuan masyarakat dan bangsa Indonesia
Bapak Presiden serta Para Hadirin yang kami muliakan
Mengawali sambutan ini, kami teringat dengan sebuah terbitan media cetak nasional pada tanggal 17 April 2009 lalu. Dalam salah satu rubrik yg berisi tentang jagad dan peristiwa dunia yang terjadi pada tanggal tersebut, ternyata dituliskan khusus pada bagian atasnya, encyclopedia dunia mencatat bahwa pada tanggal 17 April (tepatnya pada tahun 1960) lalu di Surabaya, lahirlah sebuah Organisasi Kemasyarakatan Kepemudaan yang dilahirkan sejumlah mahasiswa dan kaum muda intelektual Nahdlatul Ulama yang bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Ini tentu menjadi catatan yang membanggakan selain catatan-catatan sejarah lainnya yang telah menorehkan kiprah, dedikasi dan kontribusi PMII dalam perjalanan bangsa ini, khususnya dalam meng-endorse (mendorong) perubahan-perubahan demi kemajuan bangsa dan masyarakat Indonesia menuju ke arah yang lebih baik.
Tentu dalam situasi mutakhir saat ini, dimana tantangan global kita hadapi, tantangan zaman yang semakin luar biasa, kompetisi-kompetisi antar negara yang semakin ketat dalam berbagai kepentingannya, serta keinginan yang kuat menjadi bangsa yang besar tentu membutuhkan kekuatan sumber daya manusia khususnya kaum muda yang mampu memberikan dedikasi dan prestasi-prestasinya, dan itulah yang menjadi spirit Pergerakan yang dibangun oleh PMII.
Belum lagi keinginan serta komitmen kita semua serta seluruh komponen bangsa ini untuk terus mewujudkan cita-cita Proklamasi menuju Indonesia yang Adil, Makmur dan Sejahtera yang juga diperkuat dengan dorongan perubahan Reformasi yang dipelopori oleh Gerakan Mahasiswa, dimana PMII jelas pula membuktikan peran sertanya saat itu, baik pada level gerakan ekstra-parlementernya maupun stimulus gagasan-gagasan agenda reformasi dilakukan.
Sehingga konteks menciptakan Kepemimpinan dan Pemerintahan yang kuat, dimana Pilar Trias Politica saling memperkuat dan meyeimbangkan tanpa dominasi elemen satu dengan yang lainnya, tuk menciptakan pranata kehidupan masyarakat berbangsa-bernegara senantiasa menjadi hal penting yang harus kita kawal. Menciptakan iklim dinamis bagi penerapan Good Governance dan Otonomi Daerah, Mengembangkan investasi ekonomi dan pembangunan yang dibarengi dengan pengelolaan sumber daya yang berpihak dan menciptakan pemerataan ekonomi bagi rakyat itu sendiri. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dan hidup masyarakat kita baik dari sisi Pendidikan, Kesehatan, Pangan dan Kesejahteraan masih menjadi agenda yang terus didorong percepatannya melalui berbagai kebijakan yang dilakukan. Terlebih lagi semangat menciptakan bangsa yang memilik integritas yang kuat dengan Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi yang harus menjadi komitmen dan political will pemerintah.
Bapak Presiden, Hadirin serta Warga Pergerakan yang kami cintai..
Berbagai leading issues diatas adalah gambaran dari sekian concern dan konsentrasi agenda dan gerakan yang ingin dikawal serta senantiasa didedikasikan oleh PMII, baik sejak berdirinya hingga makna eksistensi pada hari ini. Selain sebuah amanah sosial-kultural agar PMII senantiasa menjadi pioneer Gerakan Moderasi Islam di Indonesia khususnya pada ruang akselerasi kaum mudanya, untuk menjadi penyelaras dan dinamisator sebuah makna beragama dimana Islam punya rajutan dengan Tradisi dan Sosio-Kultural masyarakat Indonesia, Islam atau agama-agama di Negara ini bukan semata-mata klaim kebenaran dan pilihan surga-neraka, atau ia juga bukan mindset orientalis liberal yang dibangun, tapi Islam adalah rahmatan lil alamin , Islam dan agama-agama hadir di Indonesia dengan kontekstualisasi yang mampu saling mengisi dengan budaya bangsa ini hingga kita benar-benar membutuhkan ta’adl (keadilan), tasamuh (toleran), tawasuth (moderat), tawadzun (berimbang) dan itulah wujud Tri Komitmen PMII; KeIslaman, KeIndonesiaan dan Kebangsaan.
Hari ini kita harus tetap semangat membangun bangsa ini, saat ini kita harus tetap optimis menatap masa depan, saat ini rakyat masih memiliki harapan besar agar Indonesia menjadi bangsa yang mandiri, bermartabat, adil dan makmur, Kun Ibna Zamanika, seperti jargon kaderisasi PMII hari ini. Dan ini harus dimulai dari sebuah penguatan Kepemimpinan dan Kepentingan Nasional yang dibangun, dan sinergitas antar elemen bangsa tuk mengawal agenda-agenda yang dimandatkan oleh rakyat kepada kepemimpinan nasional kita bersama. Tentu Tradisi Kepemimpinan yang tidak ekstrem sekaligus tidak konservatif merepresentasi status quo. Tapi tradisi kepemimpinan yang progresif, merepresentasi agenda-agenda perubahan yang diusung dan mewakili optimisme serta ekspetasi besar masyarakat. Besar harapan kami perubahan ke arah lebih baik dapat cepat dilakukan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dapat cepat tercipta, dan percepatan pembangunan tetap menjadi prioritas.
Bapak Presiden dan Hadirin yang Kami Hormati..
Demikianlah sambutan yang dapat kami sampaikan, terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kami haturkan kepada Bapak Presiden atas kehadirannya bersama warga Pergerakan pada malam ini. Juga disampaikan terima kasih kepada seluruh undangan, hadirin serta kader-kader Pergerakan..Jika hanya kita maknai malam ini menjadi malam yang biasa-biasa saja, maka kita akan keluar dari ruangan ini tetap menjadi manusia dan menatap hidup yang biasa-biasa saja. Namun jika maknai malam ini adalah malam yang luar biasa, maka kita akan keluar dari ruangan ini menjadi manusia-manusia yang luar biasa dan menatap masa depan dengan prestasi yang luar biasa pula.
Wallahul musta’an wal wallahu muwaffiq ilaa aqwamith tharieq
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
MUHAMMAD RODLI KAELANI,
Ketua Umum PB PMII

Dinamika Gerakan PMII dari Tahun ke Tahun.

Dinamika gerakan PMII sangat beragam dari tahun ke tahun, melihat perkembangan posisi regional politik dan sosial pada suasana kehidupan berbangsa dan bernegara. Dinamika PMII pada tahun ke tahun berubah menurut garis besar hasil kongres PMII, dengan mempertimbangkan pola pengkaderan yang ada di tubuh PMII. Ada beberapa data tahap-tahap titik berat program pada pola dinamika gerakan PMII.
1.Tahap I 1985 – 1988
Menitik beratkan pada konsolidasi organisasi melalui pengkodisian dalam mereformulasikan gerakan PMII pada masa ORBA yang masih bernuansa politik praktis yang sarat akan nilai-nilai ke-ilmuan dan ke-agamaan.
2.Tahap II 1988 – 1991
Menitik beratkan pada konsolidasi dan sosialisasi organisasi berupa gagasan gerakan dengan membentuk jaringan luar (out side networking).
3.Tahap III 1991 – 1994
Menitik beratkan paa empowerment kader dibidang keilmuan dan ekonomi dengan dibarengi pengkondisian gerakan ekonomi dan disemangati oleh gerakan ke-agama-an dan ke-taqwa-an.
4.Tahap IV 1994 – 1997
Menitik beratkan pada ke-ilmuan dan ekonomi, melalui perwujudan gerakan pemikiran dengan meningkatkan jaringan gerakan ekonomi melalui implementasi nilai-nilai ke-taqwaan.
5.Tahap V 1997 – 2000
Menitik beratkan pada ke-ilmuan, informasi, keprofesian, politik, hukum melalui perwujudan kemitraan dan networking gerakan pemikiran, penguatan institusi pada gerakan praksis.

silahkan meninggalkan komentar yang membangun.
terima kasih atas kunjungannya
EmoticonEmoticon