Desing Kalbu

Bagaimana rasanya membaca novel yang ngomongin HI? Akankah menjadi membosankan seperti melihat portalHI? Pasti status ‘FreakHI’ akan menempel buat yang membaca novel ini. Namun benarkah demikian? Novel karya Musa Maliki, Desing Kalbu membalikkan semua anggapan di atas. HI juga bisa dibuat asik dan seru, apalagi ada bumbu romatisme cintanya. Ngomongin HI bisa menjadi lucu dan menyenangkan, bahkan kadang-kadang menjorok ke pornografi. Ya, itulah Desing Kalbu. Dalam resensi ini, penulis berusaha menggali secara singkat cerita dalam novel ini, kemudian membahas sisi positif dan negatif dari novel ini dan terakhir memberikan penilaian dalam skala 1-5.
Novel ini bercerita mengenai kehidupan seorang mahasiswa Hubungan Internasional University of Selokan yang bernama Bayu. ia menceritakan masa kecilnya hingga ia berkuliah di universitas. Ia sering disebut ‘bodho’ pada masa kecil karena ia selalu mendapat nilai jelek di sekolahnya. Namun, ia memberontak terhadap ejekan tersebut hingga ia menjadi mahasiswa dengan IP 4,00 dalam beberapa semester. Tak hanya pintar, Bayu pun memiliki tubuh yang cukup diidolakan oleh wanita: atletis, tinggi dan ganteng.
Masuk pada bab II, dunia HI-nya mulai masuk secara kuat. Dimulai dengan percakapan Bayu dengan Leni, teman kuliah Bayu, mengenai penetrasi budaya Jawa dalam hubungan internasional. Leni ingin mendobrak pemikiran yang selama ini terdogma dalam hubungan internasional bahwa HI jauh dari dunia budaya. Ini terlihat dalam percakapan mereka:
Nek slametan digawa nang level internasional, kan jadi bahan eksperimen sing apik dan keren abis. Jadi, slametan ini mencampuradukkan semua kalangan, melimpahruahkan semua golongan….. Itulah salah satu pencegahan konflik dan cara ampuhnya wong Jawa dalam meredakan peperangan dan sekat-sekat perbedaan yang bisa menjadi bom waktu”.
Tak hanya Leni, sosok Bayu pun mulai memperkenalkan pemikiran mengenai modernisme dalam HI. Ia memberi contoh bagaimana modernisme adalah refleksi dari sistem internasional yang anarki dan konfliktual.
“… Modernitas membentuk manusia menjadi mesin-mesin satu dimensi. Pikiran mereka bisa ditebak: regularitas, ekonomis, kuasa, efektif, efisien, dan hura-hura, sex, modernitas dan kehidupan sosial… Mereka pikir itu bullshit dan utopia.”
Hegemoni AS, topik yang sangat sering dibahas oleh mahasiswa HI, juga tak ketinggalan dibahas oleh Bayu. Ia sangat gatal ketika para orang-orang yang mengaku akademisi HI hanya meneliti kekuatan AS tanpa melakukan perubahan kritis. “..AS dibiarkan tetep nakal. Kenakalannya cuma untuk dilihat-lihat saja. Bahkan para intelektual, cendekiawan, dan para pengamat hanya mengais-ngais fenomena kenakalan AS melalui teorinya, metodologinya, dan pendekatannya thok. Mereka asik dengan ngais-ngais itu”.
Novel ini berusaha untuk mendobrak batas-batas pikiran yang selama ini dibuat dalam kehidupan akademisi HI. Sosok Bayu disini sangat kesal dengan komunitas HI yang tidak bisa mengakomodasi pemikiran-pemikiran baru dalam HI. Begitu banyak akademisi HI yang masih terkekang dengan dogma-dogma tertentu seperti realisme, positivisme dll. Seperti yang dikatakannya:
“Sudah menjadi rutinitas di mana tiap pagi kita diputarkan nyanyian-nyanyian tentang negara-bangsa, kedaulatan, perspektif realis, idealis, aktor rasional, metode behavioralisme, positivisme, dan segala macam organisasi dunia. Kita gak pernah diberi wacana tentang relasi pengetahuan dengan kuasa, tentang bagaimana Jepang memindahkan konsep security-nya pada film animasi, teknologi, game Ragnarok, play station, dan perangkat budaya Jepang lainnya. Kita juga belum diajarkan tentang analisis teks Green Day, Sum 41, musik rock helloween, dan Queen yang bisa dijadikan sebagai new movement trus dimaknai sebagai kekuatan alias power dunia internasonal yang bernuansa budaya-politik”
Namun novel ini tidak hanya melulu mengulas tinjauan kritis terhadap HI. Kehidupan cinta asmara Bayu menjadi satu cerita yang tidak terlupakan bagi saya. Inilah yang menjadi selling point bagi novel ini ketika penulis novel dapat membungkus cerita cintanya dalam konteks ngomongin HI. Bayu bertemu Lana, yang kelak menjadi wanita pujaannya di sebuah seminar internasional di Jakarta. Setelah pertemuannya itu di Jakarta dilanjutkan dengan hubungan persahabatan melalui surat elektronik dan sms. Tokoh Bayu ini rupanya jago nge-gombal. Bagi yang ingin jadi jagoan gombal, cocok banget baca novel ini. Dalam bab virtual talk dan virtual dialog, dituliskan semua email-email Bayu dan Lana. Bab ini khusus buat yang bosan ngomongin HI.
Namun Bayu dilanda kebingungan. Pasalnya Bayu juga naksir berat dengan Primawati dan Rani. Disinilah Bayu harus memutuskan siapa yang akan menjadi pacarnya. Bayu menyukai Lana karena Lana enak diajak ngomong, nyambung ama Bayu tapi Lana tidak terlalu cantik untuk seukuran wanita sebayanya. Kurus, kulit coklat dan pendek. Lain halnya dengan Primawati, mahasiswi HI Bandung. Ia cantik dan tinggi, karakter yang diinginkan Bayu. Namun bayu tidak merasa cocok dengan Primawati. Lain halnya dengan Rani. bayu sempat berhubungan sangat dekat dengan Rani namun putus di tengah jalan karena Rani harus pindah ke kota lain.
Novel ini memang terobosan baru dalam dunia akademis hubungan internasional. Tidak hanya melalui buku, jurnal, blog atau media massa, novel pun dapat menjadi media dalam mengeluarkan ide dan gagasan mengenai hubungan internasional. Desing Kalbu punya nilai yang sangat kuat dalam menguggat nilai-nilai yang selama ini tertanam dalam sistem hubungan internasional. Konsep modernisme, hegemoni, kapitalisme digugat secara kritis oleh si Bayu ini. Tapi yang menjadikan novel ini lebih hebat adalah membungkus semua itu dalam kehidupan cinta Bayu yang lucu dan konyol. Ditambah dengan gombal-gombal Bayu yang lucu, ditambah lagi dengan sifat bayu yang agak sedikit porno. Novel ini memang layak untuk dibaca oleh komunitas HI. Penulis sendiri adalah bukan pencinta novel dan bukan keluarga penulis novel namun akhirnya penulis mengakui bahwa

novel ini layak mendapat dua jempol
Dua hal yang kurang dari novel ini adalah begitu banyak kosakata yang berasal dari bahasa Jawa. Seandainya saya adalah seorang Jawa, pasti novel ini akan lebih lucu lagi. Penulis pun merasa baru mengerti maksud penulis novel ketika di pertengahan novel. Mungkin bagi teman-teman yang baru membeli saya sarankan dapat langsung membaca ke bab dua atau tiga.
Buku ini sangat pantas untuk dibeli. Awalnya saya berpikiran novel ini cukup mahal (konteks keuangan mahasiswa) namun setelah membuka kemasan dan mendapat CD 2 band baru, saya menjadi tidak terlalu kecewa, apalagi sudah membaca novelnya. Lagunya juga bagus kok. Saya harus akui kehebatan Musa Maliki, penulis novel Desing Kalbu ini, dalam mengimajinasikan pemikirannya dalam novel ini. Saya jadi bertanya-tanya: apakah tokoh Bayu itu refleksi dari si Musa Maliki, penulis novel ini? Hanya Musa yang tahu jawabannya.
Terakhir, sesi penilaian. Inilah nilai yang saya berikan adalah:

1 komentar:

How can I get this book?

silahkan meninggalkan komentar yang membangun.
terima kasih atas kunjungannya
EmoticonEmoticon